Tampilkan postingan dengan label Coretan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan Hati. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Maret 2020

Perempuan Kedua

Perjalanan ini milik kita
Kau membersamaiku
Dan aku membersamai jalanmu
Bukan sebatas pengorbananmu
Bukan pula tentang pemberianmu
Dahulu kau sering merayu-rayu
Aku tersipu tanda setuju
Kau kata cintamu pada wanitamu bisa terbagi olehku
Kau kata aku memiliki sesuatu
Sesuatu yang membuatmu memilihku
Meski aku tidak pernah tau
Mengapa kau memilih wanita setelah dia
Kau bagi apa yang seharusnya menjadi miliknya
Takkan pernah kutemukan jawabnya
Sampai Semesta yang kan memberitakannya

Benar saja, kau tumpuanku
Dan aku memberatkan langkahmu
Kini hanya itu dalam pikirmu
Rayu manismu sudah tak berlaku
Tidak pun aku tahu
Apakah sesuatuku sudah pergi
Ataukah peranku tergantikan lagi

Read more »

Selasa, 15 Mei 2018

Secarik Coretan

Secarik Coretan


Kembaliku
Mencoba lawan lupa
Lupa bahwa,
Pernah hinggap rayu merdu kumpulan diksi
Dalam khayal
Imajinasi nan liar
Kembaliku
Mencoba menuaikan apa yang hinggap
Soal kelupaanku
Akan kata yang pernah merajut irama
Terbaca terbata
Berdalam makna
Sejenak semua bak terkubur
Tersebab hasrat yang melebur
Menjadi kian subur
Tatkala semakin ditabur
Inginku kian bersambut
Atas hadirnya pancaran sinar
Bak mentari yang mengusir fajar
Pancaran itu adalah sosok
Sosok yang sulit ditafsirkan
Kuanggap pahlawan
Namun ia anggapku kawan
Rajutan ilmu ia bagikan
Tenunan pengetahuan ia sampaikan
Gulungan nasihat ia paparkan
Terima kasih hanyalah sia-sia
Biarlah Semesta yang menyampaikannya


Dalam hembusan syukur, 15 Mei 2018


it's special for :
Bang Sasmitoh
Kak Sasmita 
Kak Nita

Read more »

Minggu, 31 Desember 2017

Intermeso

Intermeso

Waktu itu aku 17, dan kau 22
Aku mengagumimu
Kau pergi

Waktu itu aku 18, dan kau 23
Aku tetap mengagumimu
Kemudian kau pergi

Waktu itu aku 19, dan kau 24
Aku masih mengagumimu
Dan kau pergi lagi

Saat ini aku 20, dan kau 25
Kagumku atasmu sama
Meski kau benar-benar tanpa berita

Dari aku yang mengagumimu
Ini untukmu.....

Read more »

Jumat, 20 Oktober 2017

Kau dan Kedatangan

Kau dan Kedatangan
Setelah perpisahan itu
Tidak ada lagi apapun, kecuali
setumpuk memori
Memori tentang kau
Kau seorang pembimbing
3 bulan, cukup
Kukira usai segalanya
Waktu menangkis opini
Rupanya kau masih ingat
Ingat akan semangatku menggambarkan masa depan
Kau datang kembali
Bahkan lebih dari seorang pembimbing
Kau menuntun
Yaa, menuntun
Meski pada akhirnya aku mengecewakan
Kau pergi
Mungkin membawa serta kekecewaan
Atau karena
Kau anggap selesai tugasmu
Kau terlalu absurd untuk kutebak
Lama sekali kau pergi
Hingga lagi-lagi kupikir benar-benar kau pergi
Tanpa ada rasa harap dalam diri
Untuk bisa menyaksikanmu kembali lagi seperti apa yang biasa kau lakukan
Dan kini, kembali kira-kiraku tidak tepat
Kau datang dengan sedikit sapaan
Cukup sedikit,
Dan memang sedikit
Saking sedikit, sampai membekas
Sulit tuk dihempas
Dari ujung-ujung ingatan keras
Memberi harap-harap semu
Dan membuatku terpaku
Diam dan menunggu


Hunian Malam, 20 Oktober 2017
Read more »

Rabu, 30 Agustus 2017

Nama "Khalis Sofi"

Khalis Sofi
Tentang nama aku, ya Khalis Sofi. Sering sekali orang mengira bahwa aku ini bergender laki-laki. Sebut saja dari mulai SD, ketika guru mengabsen, banyak kali ketika sampai pada urutan nomor absenku dan menyebut nama "Khalis Sofi" pandangan tertuju pada barisan tempat duduk putra. Hal sama terjadi ketika aku duduk di bangku MTs, pun SMK. Tak jarang pula guru-guru sembari mengatakan "Khalis Sofi perempuan, dikira laki-laki" tak ketinggalan dengan seutas senyum di kemudian. Tak lupa, berlaku juga di acara perkumpulan-perkumpulan lain, seperti organisasi atau tempat-tempat yang baru aku hinggapi. Hmm tapi biasanya hanya berlaku di awal perkenalan saja yaa. Di kemudian hari pasti sudah tidak asing lagi kok, bahkan beberapa guru/teman lebih nyaman dengan panggilan "Khalis" untuk menyapaku.
Kedua, nama Khalis Sofi juga yang sering membuatku dipanggil Mas, Bang, Om, juga Kang di sosial media. Ahh parah nian nii, hihii. Tentunya jika mereka belum mengenal sosok aku yaa. Semisal di grup chat, atau di komentar umum di suatu postingan, dll. Hmm aku juga lebih biasa dipanggil "Agan" bukan "Sist". Hhh begitu terlihat laki sekali yaa diriku di jagat maya? Hihii. Ehh iya, padahal foto profil semua akunku perempuan berkerudung loo, lalu mereka kira itu siapa? Cewek aku? Istri aku? Hahaaa. Ehh iya mereka kan tak sampai melihat profil pribadiku. Hihihi..
Lanjut, ini sih di dunia nyata yaa. Kata orang, aku ini terlihat tomboy, aku menyadari sejak aku SMK dulu. Katanya terlihat dari body aku, cara jalan aku, mungkin sikap aku pula. Kata orang, keluarga terutama yaa, urusan karakter sih turunan dari Ayah, wuihh pantes aja..
Pilihan yaa, yang mudah dan sering disorot aja, sepeda motor. Aku punya sepeda motor Honda SupraX125 rakitan tahun 2015. Motor bebek brow? Itu yang membuat orang sekitar heran, mengapa seorang perempuan lebih memilih motor model seperti itu, tidak seperti perempuan lain yang lebih suka motor matic yang lebih simple, girly tentunya? Ahh itu perkara selera saja, motor bebek lebih nyaman, lebih santai, lebih enak dibawa berkendara jarak jauh kok. Mungkin jika aku ceritakan apa sebenarnya sepeda motor idaman aku, akan lebih tercengang lagi mendengarnya, Yamaha Jupiter MX150. Kenapa? Makin heran? Wkwkk. Sempat hampir dimiliki sebelum akhirnya aku memilih sepeda motorku sekarang. Karena waktu itu budget kurang 3jt'an untuk bisa membeli MX, dan setelah dipikir lebih jauh, aku belum bisa mengendarai motor dengan kopling karena belum pernah belajar sama sekali, dan kalau mendadak belajar mungkin akan lama lepas landasnya, secara aku beli sepeda motor karena butuh, dan untuk operasional jarak jauh. Dan jatuhlah pada opsi kedua, kumiliki Honda SupraX125. Yang tetap menjadi pertanyaan setiap orang yang baru mengenalku "Kenapa cewek pake motor bebek?" ahh bomat dahh, hihii..
Berkendara motor sendiri, itu kebiasaan aku. Aku pun sering bermotor keluar kota, Cirebon-Bandung PP, Cirebon-Subang PP, Cirebon-Pemalang PP, Cirebon-Jakarta, dan sekarang aku di perantauan, tepatnya di Cikarang, dan Insya Allah untuk akses pulang kampung aku akan berkendara motor sendiri seperti biasa. Ini pun titik keheranan orang-orang yang diarahkan padaku.
Seputar kesukaan, jaket, aku punya jaket kulit warna hitam, dan asal tahu saja itu jaket seragam dengan teman-teman Produksi dan QC yang notabennya laki-laki, hmm semuanya sih, aku perempuan satu-satunya. Aku sering memakainya, terutama saat berkendara motor. Aku pake jaket itu? Heran pula lah orang-orang. Hahaa. Apalagi kalau di jalan raya, sering dipanggil Om, Mas, Aa. Iya gara-gara pake jaket itu, meski aku memakai rok. Orang kan tidak melihat sampai ke bawah yaa, jadi gitu dehh..
Lagi, aku tidak terlalu memikirkan penampilan diri, make up, fashion, aksesoris-aksesoris yang biasa dikenakan wanita, perhiasan emas pun tidak begitu tertarik, koleksi boneka, tas, sepatu juga tidak. Aku berpenampilan flat banget, dengan pakaian syar'i menutup aurat kok. Nah di sini pula letak keheranan aku mengenai penilaian orang-orang. Aku kan berpakaian syar'i ya tapi kenapa masih dibilang tomboy? Karena gayanya kah? Sikap kah? Perilaku kah? Karakter yang ditonjolkan kah? Entahlah..
Etapi bukan berarti karena dari dulu aku tak pernah terlihat dekat dengan laki-laki terus terindikasi aku tidak suka laki-laki yaa, aku normal kok, hahaa. Aku suka laki-laki, aku akan menikah dengan laki-laki kok. Hanya saja aku tidak ingin kedekatan berlebih sebelum ada ikatan halal, begitu saja, ciaahh.. Aku serius, serius!!
Soal pemikiran, kalau lagi ngobrol sama teman-teman perempuan nih, katanya aku sering beda pendapat, tak searah dengan mereka, pemikiran aku lain daripada yang lain Hihii. Nah iya, setelah aku renungkan, ternyata aku menilai sesuatu lebih karena logika, perasaan aku tidak ikut andil kecuali sedikit saja. Tak seperti kebanyakan perempuan yang sedikit-sedikit dibawa perasaan, masuk ke hati, dan sebagainya. Karena bagiku tidak cukup memandang sesuatu hanya dari satu sisi.
Semuanya sudah Allah atur kok. Mungkin dengan adanya aku begini, aku digambarkan oleh Allah sebagai sosok yang kuat untuk menopang keluarga. Ayahku sudah wafat 4 tahun lalu. Aku hanya punya ibu dan satu adik perempuan. Tidak ada lagi tempat aku untuk bermanja-manja, maksudnya meminta layaknya anak kecil merengek. Sejak lulus sekolah, artinya sejak 2 tahun lalu aku sudah bekerja, dan saat ini Insya Allah akan memulai untuk mengenyam pendidikan di bangku kuliah (dengan tetap bekerja), adik aku kuliah, alhamdulillah dengan beasiswa. Dan ibu di rumah dengan warung kecilnya. Iyaa, hidup keluarga tidak bergantung padaku, karena setiap dari kita mempunyai kiblatnya masing-masing, tapi setidaknya aku lah yang diandalkan untuk mengurangi beban pikiran soal keuangan.
Iya itu tujuan Allah menciptakan aku dengan karakter, sikap, tabiat, pemikiran dengan kecenderungan seperti laki-laki. Tapi aku yakin, semua ini ada waktunya untuk berakhir. Kapan? Aku prediksikan aku akan berubah ketika memiliki sosok Ayah (lagi, bukan pengganti, karena takkan pernah tergantikan), atau kelak ketika aku mendapat pendamping hidup. Insya Allah..

Read more »

Kamis, 03 Agustus 2017

Mimpiku? Oh Tidak!

Zuhri menatap fokus ke arah layar 14" itu, sesekali menggeser-geser perangkat mirip tikus yang sering mengganggu persediaan bumbu di dapurnya.
"Mas maafin aku yang tidak bisa memegang janji kita, aku harus pergi ke kampung halaman, ini permintaan ayah, mungkin karena aku anak perempuan beliau satu-satunya, aku tak ingin mematahkan harapan beliau, aku harus pulang untuk segera mengurus acara yang dirancang seminggu lagi, aku harus mempersiapkan pernikahan.................... "
Tegg, Zuhri terpaku, jantungnya bak dikejar anjing pelacak kepolisian yang tengah bertugas, darahnya sekencang aliran sungai yang dijatuhi derasnya hujan, sesegera itu pula tangannya meng-close semua worksheet yang masih muncul di sisi bawah Windows monitornya, menatap kosong segala sisi ruang, menutup mata, sembari meresapi kalimat yang ia ucapkan, "Ohh Tuhan..."
Kini ia bersama dengan Nita, wanita yang mengiriminya pesan singkat melalui laman Facebook secara private malam itu, berfoto bersamanya di pelaminan. Zuhri tersenyum bahagia di depan kamera mas-mas crew video shooting pernikahan Nita dan suaminya. Hatinya rapuh padahal, serapuh kayu tua yang disengat teriknya matahari hari ini, tapi tak lebih terik dari jiwanya yang membuncah, melupakan kobaran perih atas yang ia saksikan.
"Terima kasih mas sudah datang.."Senyum Nita terpana ke arah Zuhri yang menyalaminya di depan kursi, kursi yang pernah mereka impikan bersama, kursi pelaminan. Nita tersenyum bahagia sekali, semringah, menghangatkan, bukan sekadar beradegan palsu di dekat lelaki yang kini sah menjadi imam hidupnya. Nita benar-benar bahagia. Raut itu yang dapat Zuhri tangkap saat ada di lokasi bak neraka itu.
"Selamat berbahagia, s..a..y..a..ng..". Zuhri membiarkan kalimat itu mendarat di telinga Nita, membisikannya lembut, selembut kasihnya yang membuat Nita lama menunggu, halus, sehalus kain sutra yang pernah ia selempangkan pada leher Nita kala gerimis bulan lalu. Tak ada kalimat lain yang kemudian menyusul setelah kalimat itu, bahkan untuk menatap riasan wajahnya yang amat apik, seapik tokoh Cinderella dalam dongeng, menyentuh tangannya, bersalaman sekadarnya, kemudian berlalu dari lautan tamu yang turut berbahagia.
Malam menghampir, Zuhri masih menyendiri di tepi jalan raya dekat masjid yang ia singgahi saat sholat Isya tadi. Jiwanya masih berantakan, runtuhan luka masih belum genap jatuh, debu-debunya masih menempel pada dinding hati yang kini sudah tidak kokoh lagi. Menatap roda-roda kendaraan berlalu, semilir angin membuat rambutnya sedikit berantakan, tapi tidak seberantakan hatinya.
Malam yang sama pun, Nita tengah beristirahat di kamar barunya, bukan, tepatnya kamar lama yang baru akan ia tempati bersama suaminya, kamar lama beratmosfer baru, nuansa malam pertama, pengantin baru. Terlihat Nita sibuk berkutat dengan HP yang sejak tadi bergetar, tanpa nada dering, takut mengganggu khusyunya resepsi pernikahan katanya. Satu persatu ucapan selamat dari beberapa sosial media ia buka, dari berbagi kalangan teman. Cukup dibaca. Nita lebih tertarik pada laman kontak di HP-nya, melihat satu nama, nama yang selalu ia hubungi dalam keadaan apapun, icon panggil, by SIM1, meluncur panggilan ke arah nama kontak itu.
Drrrrrreeettr, dreeettr... Getar HP Zuhri mengganggu lamunannya kembali, sudah panggilan ke sekian yang ia saksikan selama penyendiriannya di tepi jalan raya itu, namun Zuhri mengabaikan, ia tidak ingin diganggu, niat hati ingin menonaktifkan HP-nya, tapi itu tidak mungkin, ia butuh, kali-kali salah satu panggilan itu berasal dari dia....
Benar saja, dia, nama kontaknya tertera jelas di layar smartphone-nya, sekilat jari menyentuh icon jawab, "Halo......" Zuhri gelagapan..
"Zuhri, ke ruangan saya, bawak laporan stock opname kemarin.... "
"Emm, i.. ya, Pak."

"Mas maafin aku yang tidak bisa memegang janji kita, aku harus pergi ke kampung halaman, ini permintaan ayah, mungkin karena aku anak perempuan beliau satu-satunya, aku tak ingin mematahkan harapan beliau, aku harus pulang untuk segera mengurus acara yang dirancang seminggu lagi, aku harus mempersiapkan pernikahan kakak sepupuku, tidak ada lagi yang bisa membantu, di keluarga besar kita, hanya aku sodara perempuan dia, dan kedekatan kita pun tak bisa terhitung oleh centi bahkan milimeter. Maafkan aku harus pergi besok sore, aku tidak bisa menemanimu menyantap bakso di tempat yang katamu orang bilang enak itu.. "

Telpon kantor, dari Pak Markus, memecah semua ilusi Zuhri yang tengah meliar, itu kebiasaannya, berimajinasi di tengah free-nya kerjaan, atau dimanapun yang menurutnya enak dijadikan suasana untuk memikirkan hal yang tak dapat dijangkau dunia nyata.
Nyatanya ia hanya membayangkan kelakuannya semalam yang shock ketika membaca pesan singkat Nita, ia sedikit tersedak ketika membaca sampai pada kata "pernikahan", ia tengah membayangkan boodohnya ia ketika hampir membanting mouse komputer yang digenggamnya, untung dia bukan tipikal orang yang cepat terbawa emosi hanya oleh sebuah tulisan, lanjut scroll ke bawah, menuntaskan pesan yang Nita kirimkan.
"Sof, aku pulang duluan.. "
"Hm, tiati." Kebiasaan Sofi, partner kerjanya, ketika dirinya berpamitan pulang lebih dulu.

"Kamu belum jalan?" Zuhri memarkirkan sepeda motornya melebihi batas area parkir tamu, di depan kost-kostan Nita, berniat sesegera membantu Nita membawakan tas berukuran cukup yang tengah ia tenteng. Untung ibu kos tidak ada di tempat kala itu.
"Iya nih, ojek online dari tadi nggak ada yang ambil orderan aku, udah dua kali." Keluh Nita. "Ehh.. Ini yang ketiga." Rautnya semakin memasam, layar HP-nya menunjukan tolakan pesanan ojek online(lagi).
"Yokk aku anterin ke stasiun." Zuhri hendak membawakan tas yang ada di samping kaki kanan Nita.
"Ehh ini ada yang ambil orderan.. "
"CANCEL" Tukas Zuhri..
"Hahaa jahat banget." Serentak Zuhri dan Nita mengucapkan. Tawa menghiasi perjalanan mereka menuju stasiun.

Sang Imajinator, 03 Agustus 2017
Di tengah sunyinya malam Jum'at..
Khalis Sofi..

Read more »

Selasa, 11 Juli 2017

PT Mulia Boga Raya, Bukan Tempat Jaim-jaiman

Salah satu peraturan baku di PT Mulia Boga Raya adalah tidak diperbolehkannya karyawan menggunakan Handphone selama di area perusahaan, termasuk karyawan yang stay di Office. Mungkin terdengar agak menjengkelkan. Bayangan pekerjaan yang rumit, membuat stres, diterapkan peraturan yang melarang menggunakan media paling menghibur ini. Di sini hape hanya diperuntukkan bagi yang benar-benar memerlukan, seperti untuk berkomunikasi dengan pihak eksternal, pun untuk itu lebih mengutamakan penggunaan fasilitas telepon kantor. Pihak yang boleh menggunakan hape selama di area kerja juga harus memiliki legalitas khusus, SK dari pimpinan dan tentunya disetujui Divisi Personalia (HRD).
Kerja tanpa hape bikin BeTe? Oh No, tidak sama sekali. Aku membuktikannya di 4 bulan ini, merasakan nikmatnya hidup dengan orang di dunia nyata seutuhnya. Manfaat paling terasa adalah mudahnya berbaur dengan lingkungan pekerjaan, tidak ada kata jaim di sana. Tidak begitu dominan terlihat perbedaan antara karyawan lama dan karyawan baru.
Disamping kerja tanpa hape, juga ruang Office yang terpusat menjadikan antarkaryawan lebih akrab. Administrasi berada dalam satu atap, begitu pula dengan staff manajemen.
Aku, orang yang (mungkin lebih dikenal) dengan sifat cuek (bahkan cenderung jutek), atau dibilang pendiam (oleh orang yang tidak begitu mengenal), bisa menunjukkan wujud asli, karena aku rasa semuanya orang dekat, aku serasa bebas mengekspresikan diri tanpa aku batas-batasi (jaim). Karena yang aku tahu, orang-orang di sini pure menjadi satu, tidak ada saling melihat kekurangan apalagi mencari-cari kesalahan. Tidak ada obrolan yang merujuk pada gosip atau membuka aib antarsesamanya.
Saat kita free, pekerjaan sudah dikerjakan dengan baik, kita bisa ngobrol asyik, berisik, ribut, bebas curhat, bercerita apapun, dan yang lebih aku suka adalah ketika kita saling memberi masukan jika kurang tepat dalam bertindak atau bersikap.
Kerja yang monoton, menguras pikiran, terobati sudah dengan aksi-aksi konyol sekitarnya. Canda tanpa singgungan, tawa untuk hiburan, pekerjaan selesai tanpa pusing-pusingan.
Aku orang yang (katanya) tidak banyak basa-basi, di sini apa? Hahaa sangatlah berbeda (kalo mood lagi nggak jelek yakk). Aku bisa jadi orang yang doyan ngomong, ketawa-ketiwi, bisa dibully atau membully, bisa dijudge atau sebaliknya, dan lain sebagainya. Semua yang kita lakukan tidak membuat hati sakit. Itulah kita, No HaPe No BeTe..
Karena saking merasa jadi satunya, kekurangan personil pun tidak menjadi suatu kehilangan (entah ini masuk kategori kelebihan atau kekurangan, hehe). Semisal ada yang nggak masuk kerja karena izin, cuti, dll., yang penting kita tahu kabarnya, cukup. Tapi kalo sakit, kita terus gali informasi dan perkembangannya.
Jauh dari gambaran sibuk masing-masing saat kerjaan kosong, yang ada saling membuat sibuk satu sama lain.
Cikarang, 11 Juli 2017
Khalis Sofi
_Dreamer_
*Sebelum Usia 25*
Read more »

Minggu, 09 Juli 2017

PT Mulia Boga Raya, Pelabuhan Nganggur-ku (Part 2)

PT Mulia Boga Raya, Pelabuhan Nganggur-ku (Part 2)
Satu bulan berlalu, 17 Februari 2017 aku mendapatkan dering telepon dari nomor tak dikenal lagi, siapa? Suara diseberang memperkenalkan dari PT Mulia Boga Raya.....
Dering telepon itu mengatakan bahwa ada panggilan tes tulis untuk besok, 18 Februari 2017, senang, haru, dan ribet, bagaimana tidak, posisi aku masih bekerja di RM, jam 11.00 aku harus masuk kerja, sedangkan panggilan sekitar jam 10.00, hari Jum'at pula, hari dimana RM sangat penuh dijejali pelanggan. Tenang, itu sikap yang berusaha aku tunjukkan. Kudatangi RM meski belum waktunya masuk kerja, kuhampiri manajer yang berada di dapur, kuajak beliau berbicara empat mata, dan kukatakan sejujurnya bahwa aku mendapat panggilan dari PT Mulia Boga Raya di Cikarang, dan aku mau ke sana. Awalnya beliau tidak mengizinkan, tentu saja dengan alasan jam kerja, akhirnya setelah bernegosiasi, aku meminta diizinkan pulang jam 14.00.
Sampai di rumah bibi sekitar jam 17.00, menunggu om pulang kerja untuk minta diantar ke Cikarang. Sekitar pukul 20.30 aku dan om berangkat ke Cikarang, rencananya akan menginap di teman sebangkuku sewaktu SMK dulu, Nita. Meski belum pernah tahu dimana tempatnya dan Nita pun tidak begitu jelas memberikan alamatnya karena dia kurang paham jalan, tapi aku dan om tetap jalan malam itu. Jam 12 sampai di kontrakan dia, dan om langsung kembali ke Jakarta.
Hari yang mendebarkan, aku dengan diantar Nita menuju tempat tes, PT Mulia Boga Raya.
Tidak banyak ternyata peserta tesnya, hanya ada 19 orang. Di sana aku benar-benar berharap penuh bisa menjadi bagian dari mereka, apapun pekerjaanku nanti, aku ikhlas, yang penting Allah ridho, begitu saja pintaku. Selagi menunggu waktu masuk, seperti biasa aku berkenalan dengan teman-teman baru, bagiku sudah menjadi hobi atau bahkan keharusan melakukan hal itu, dan aku mulai yakin bahwa cuek, jutek, jaim hanyalah penyakit yang harus disembuhkan.
Tes tulis lolos, dilanjut interview masal, lolos juga. Tes selanjutnya yaitu training yang dilakukan 20 Februari 2017. Galau dan senang tentunya. Galau karena status masih karyawan RM, dan kebetulan juga di tanggal bersamaan ada panggilan dari PT Dankos Farma, tapi kupilih untuk ikut training di PT Mulia Boga Raya yang sudah di tahap lanjutan.
Sore hari masih di kontrakan Nita, aku dijemput kakak sepupu yang tinggal di Cikarang untuk berkunjung ke rumahnya. Oh ya, dia juga salah satu yang berperan dalam ngebolang-ku, aku pernah diajak ngebolang ke Kawasan-kawasan industri di Cikarang, seperti Jababeka, EJIP, Hyundai, MM2100, hanya sehari sih, namun memuaskan.
Malam hari masih di tanggal 18 Februari 2017, kakak mengantarkanku ke Halte Bus, aku pulang ke mess RM untuk mengajukan pengunduran diri, jam 11 malam aku tiba di sana.
Esok hari mengajukan pengunduran diri dengan alasan yang kujelaskan dengan jujur, manajer dan teman-teman di sana malah mendukung, alhamdulillah. Benar-benar pengalaman yang tak terbayar oleh apapun, dipertemukan dengan orang baru yang membawaku pada berkurangnya sifat cuek.
Minggu, 19 Februari 2017 aku pulang ke Cakung untuk mempersiapkan kembali berangkat ke Cikarang. Sore hari, seperti biasa om yang menemaniku, namun halangan datang. Ada kecelakaan yang menimpa kami, om terluka cukup serius di bagian kaki yang mengharuskan dirinya beristirahat selama seminggu. Masya Allah, di saat itu aku serasa putus asa, aku tidak ingin meninggalkan om dalam keadaan seperti itu, di sisi lain aku punya visi yang hampir tercapai, penantian selama dua bulan setengah, yaitu mendapatkan pekerjaan yang pasti. Namun om dan bibi tetap mensupport supaya aku tetap berangkat.
Allah memberikan cara lain, ada Uwa (Pak De)-ku yang juga tinggal di Jakarta yang mau mengantarkanku ke Cikarang malam itu juga, ke rumah anak beliau, yaa kakak sepupuku.
Senin, 20 Februari 2017 dengan diantar kakak, aku berangkat ke PT Mulia Boga Raya untuk melakukan training, meski saat itu kakak memiliki kesibukan yang sangat. Alhamdulillah training selesai, dan kabar tidak mengenakan datang dari HRD penguji. HRD mengatakan bahwa hasil training akan diberitahukan setidaknya 3 minggu ke depan. Ahh, mati rasa aku, lepas pekerjaan di RM, sudah membuat om sampai sakit, di Cikarang harus menyusahkan orang lain pula, dan aku mentok mikir, pasrah, menyerahkan semuanya kepada Allah.
"Baiklah training hari ini selesai, saudara/i bisa meninggalkan ruangan, kecuali Khalis Sofi.". Hah? Apa? Namaku disebut-sebut HRD penguji? Berdebar hebat jantungku, bapak HRD menunggu peserta training lain meninggalkan ruangan.
"Sofi, kamu siap kerja?" Pertanyaan HRD penguji kepadaku ketika kami hanya tinggal berdua di ruangan.
"Insya Allah siap, Pak."Jawabku tegas dan berusaha tenang.
"Kalau begitu, besok kamu datang ke RS. Siloam untuk Medical Check up (selanjutnya disebut MCU), kamu ke resepsionist di sana dan bilang mau MCU calon karyawan PT Mulia Boga Raya, kemudian di hari Rabu kamu ke sini lagi untuk mengambil hasil MCU, jika bagus, hari Kamis kamu bisa mulai kerja."
"Oh iya siap, Pak. RS. Siloam ya Pak? Baik, Pak."
"Iya, kamu tahu? Ini saya sudah buatkan Surat Pengantar MCU untuk kamu."
"Belum sih pak, nanti ada kakak kok. Iya terima kasih, Pak."
"Oke, ada pertanyaan lagi?"
"Hmm cukup, Pak."
"Oke, kamu bisa pulang sekarang."
"Baik, terima kasih, Pak."
Sekeluarnya aku dari ruangan, bulir air mata menitik, perlahan memenuhi wajah yang penuh haru ini, kejutan dari Allah yang sangat membuat surprize. Masya Allah, rencana Allah Maha Indah, skenario-Nya Maha Sempurna.
Aku pulang dijemput kakak, dan sesegera aku mengabarkan hasil menggembirakan ini. Dan tentu dia siap mengantarku ke RS. Siloam esok hari.
Malam hari, masih di hari yang sama dengan hari aku training, daya tahan tubuhku menurun, pusing, mual, muntah-muntah, mungkin karena kurang istirahat di beberapa hari terakhir itu. Kondisi tidak sehat terlihat sampai keesokan hari, hari dimana aku akan melakukan MCU.
Selasa, 21 Februari 2017 aku MCU ke RS. Siloam Cikarang, seperti biasa, kakak yang mengantarku, dia selalu siap dan ada untukku saat itu. Cuaca buruk, hujan deras sejak pagi hari, kondisi badanku juga masih kurang sehat, tapi dia meyakinkan dan tetap mengantar ke RS, meski tidak sesuai jadwal, aku datang sekitar pukul 10.00 karena menunggu hujan agak reda.
Di RS. Siloam Cikarang, MCU, sendiri, tanpa ada yang kenal, alhamdulillah berjalan lancar, walau antrian lumayan panjang. Seperti biasa, berkenalan dengan peserta MCU dari perusahaan lain, berbagi cerita, berbagi pengetahuan, sejenak menghilangkan kejenuhan dan melupakan rasa tidak enak pada tubuh ini. Dan setelah sekitar 2 jam aku di RS, aku bertemu dengan teman-teman peserta training kemarin hari, ternyata mereka dihubungi pada sore harinya, dan tadi pagi mereka ke PT Mulia Boga Raya untuk mengambil Surat Pengantar MCU. Setelah serangkaian MCU selesai, aku kembali pulang ke rumah kakak tentu dia yang jemput.
Rabu, 22 Februari 2017 aku kembali datang ke PT Mulia Boga Raya sesuai instruksi HRD penguji, untuk melihat hasil MCU.
Ruangan sudah dipenuhi oleh peserta MCU tempo hari, perlahan HRD penguji menyebutkan hasil MCU, dan sampai kepada namaku, aku lolos. Alhamdulillah, Masya Allah Laquwwata Illabillah..
"Baiklah, bagi yang dinyatakan tidak lolos bisa meninggalkan ruangan." Singkat ulasan hasil MCU selesai.
"Baik, ada 3 departemen yang saat ini tengah membutuhkan personil baru. Yaitu untuk Admin PPIC, Operator Produksi, dan Operator RnD." Penjelasan lanjutan dari bapak HRD
"Untuk Admin PPIC kami butuh satu orang, dan itu akan diisi oleh Sofi..........."
Masya Allah, Laquwwata Illabillah.. Air mata kembali menitik, tak hentinya syukur kupanjatkan pada Illahi Rabbi, aku tahu, ini hadiah yang Allah berikan atas keyakinanku, atas kepercayaan bahwa rahasia Allah itu keren, bersama kesulitan ada kemudahan, dan Allah selalu ada untukku.
Ini merupakan hadiah terindah dari Allah atas aral melintang, jalanan terjal, lika-liku yang bisa aku lewati atas izin-Nya. Aku memasrahkan apapun pekerjaan kepada-nya, yang penting Ia ridho. Dan Ia memberikan ini padaku, Masya Allah. Bekerja sebagai Admin, sesuai basic dan pengalaman, segala kekurangan fisik yang ada pada diriku sedikitpun tidak menjadi masalah, mata minus, TB kurang, dan mengenai penampilan, sama sekali tidak menjadi sorotan. Masya Allah Laaquwwata Illabillah.. 
Banyak sekali pelajaran berharga yang aku dapatkan selama perjalanan menganggurku selama 2, 5 bulan ini. Kesabaran, keyakinan, kepercayaan, usaha, kerja keras, lebih dekat dengan Allah, dengan keluarga, dengan teman baru. Dan misiku perlahan berjalan, karena di dalam 2,5 bulan itu aku telah menelusuri banyak tempat baru. Salah satu misiku adalah "Mengetahui Bumi Allah yang (katanya) Luas". Dulu aku sering berdo'a pada Allah "Ya Allah, bumi Engkau itu luas, tapi kok aku cuman tahu di sini-sini aja, di Cirebon. Lingkup perjalanan aku juga cuman Plumbon, Babakan, Lemahabang, Kota, dan wilayah Cirebon yang lain. Ya Allah, aku ingin tahu lebih banyak sisi bumi-Mu."
Dan sesungguhnya keberadaanku di sini sudah terkonsep, sudah aku rangkai sejak zaman aku sekolah dulu. Hanya saja rutenya yang belum aku tahu, dan inilah rutenya, Allah bocorkan sekarang. Aku sangat bersyukur atas rute yang Allah berikan ini.
Saat ini aku tinggal di kontrakan Nita, sahabatku itu, sekolah satu bangku selama 3 tahun, dan kini kita satu atap, semoga tetap bersama seperti ini yaa, kecuali hidup baru yang memisahkan kita, hihii..
Cikarang, 09 Juli 2017
Khalis Sofi
Dreamer
_sebelum usia 25_
Read more »